Memahami tentang tata cara sahnya shalat berjamaah

Memahami tentang  tata cara sahnya shalat berjamaahShalat berjamaah bagi kaum laki-laki yang merdeka dan yang bertempat tinggal menetap, tidak sedang dalam perjalanan, sudah baliq, dan juga tidak adanya sebuah hambatan, misalnya kondisi sedang kacau, lapar, hujan deras dan sakit, hukumnya fardhu Kifayah.
Shalat berjamaah jika didalam melaksanakan shalat jumat, hukumnya Fardhu ain, dan jika ada 40 orang mukallaf atau dewasa didalam sebuah masjid. Bahwasanya perlu diingatnya, bahwa sahalat berjamaah pada saat shalat jumat dirokaat awal, maka hendaknya Makmum diperkenankan mendahului Imamnya dirokaat yang kedua.

tentang sahnya tata cara shalat berjamaah

Menurut imam syafii diterangkan, shalat jumat hanya ada 4 orang, hukumnya juga sah-sah saja. Hukumnya wajib Shalat jumat, untuk seseorang yang dalam perjalanan apalagi sampai menginap ditempat tujuannya, jika menurut pandangan sahih, khususnya bagi orang-orang yang sudah mendengarkan adzan melalui tempat-tempat berbeda dipinggiran desa yang memang berdekatan dengan desa dimana tempat tersebut ada dilaksanakannya Shalat jumat.

#Memahami tentang  tata cara sahnya shalat berjamaah.
Adapun tentang sahnya tata cara melaksanakan shalat berjamaah, khususnya pada saat melaksanakan shalat jumat, ialah :
  • Dilakukannya tepat diwaktu dzuhur
  • Khotbah dikerjakannya 2 x yang didengarkan oleh empat puluh orang
  • Shalat berjamaah pada saat shalat jumat sedikitnya ada empat puluh orang yang hadir
  • Pada saat dilaksanaknnya shalat jumat, seharusnya tidak bersamaan dengan Shalat jumat yang berada dikampung sebelahnya, dan juga tidak diperbolehkan melaksanakan Shalat jumat disatu tempat, terkecuali tempat tidak memadai.
Selain itu juga, kita harus memahami tentang rukn-rukun khotbah, selain untuk menambah ilmu pengetahuan kita, kita juga harus saling mengingatkan akan kesalahan-kesalahan orang lain. Rukun khotbah ada 5, diantaranya :
#Rukun khotbah
  • Selalu memuja-muji Allah, contohnya selalu menyebutkan kalimat Alhamdu lillahi.. 
  • Selalu membawakan shalawat terhadap Nabi Muhammad, contohnya menyebutkan kalimat : Allahumma shalli’alla dan juga washhalaatu wassalaamu’alaa saydinna Muhammadin. 
  • Selalu berwasiat senantiasa taqwa terhadap kedua Khotbah, contohnya : ittaqul-laah 
  • Selalu membacakan ayat-ayat Al-quran disertai keterangan dan pengertiannya secara lengkap 
  • Selalu membacakan doa-doa khusus Kaum Mukminin disaat-saat khotbah yang ke dua, contohnya Allahumagh firlilmu’miniina walmu’minaat.
#Syarat-syarat dalam berkhotbah ada tujuh, diantaranya:
  • Dalam keadaan suci dari Hadas Besar dan Kecil, dan juga Najis yang menyatu dibadan tempat maupun barang-barang bawaaan (Hhatib wajib bersih dari segala najis) 
  • Selalu tertutup (antara apusat dan juga sampai Lutut bagi seorang pria) 
  • Selalu berdiam diri ditengah-tengah Khotbah (untuk yang masih kuat, jika tidak duduk juga diperbolehkan) 
  • Selalu duduk tepat diantara kedua Khotbah (sejajar disaat membacakan Subhaanallaah dan afdhalnya sambil membaca surat Al-Ikhlas). 
  • Selalu diam diantara kedua Khotbah (kalaupun menjauh dari khotbah harus dibarengi dengan memberikan nasehat-nasehat terhadap semua hadirin yang dating) 
  • Selalu ada diantara kedua Khotbah (kalaupun sampai terpisah, harus dengan waktu sejajar shalat 2 rakaat, jika tidak, maka tidak sah khotbahnya 
  • Dari kedua Khotbah selalu dengan mempergunakan bahasa arab ( juga tentag rukun-rukunnya)
Bahwasanya perlu kita semua ketahui. Ada beberapa ulama bersepakat, bahwa Khotbah harus dengan mempergunakan bahasa arab, sebab dijaman Rasulluloh saw begitu juha para sahabtnya, Khotbah selalu dengan menggunakan bahsa arab. Akan tetapi dia lupa, bahwa kondisi dijaman dahulu hanya diperlukan bahasa arab sebab bahasa arablah yang merupakan suatu bahasa paling umum digunakan oleh semua pendengar. Bahwasanya mereka lupa mengenai maksud diadakannya Khotbah, merupakan sebuah sarana yang memberikan pebelajaran atau nasehat terhadap orang-orang muslim, sekaligus yang mendengarkannya selalu dalam keadaan tenang ( selalu memperhatikan isi dari Khotbahnya). Sebagaimana melalui firman Allah yang artinya :
“ jika telah dibacakannya Quran, maka secepatnyalah hadirin mendengarkannya dan juga meperhatikannya, mudah-mudahan hadrin akan senantiasa mendapatkan rahmat (S. Al A-raf )
Ada juga sebagian para ahli Tafsir menyatakan bahwasanya ayat-ayat yang diturunkannya ini, sebab ada kaitannya mengenai urusan-urusan Khotbah. Jika Khatib sedang berkhotbah menggunakan bahasa yang kurang dimengerti oleh semua hadirin, sudah tentu Khotbahnya menjadi percumah. Begitu juga dengan hadirin semua pastinya juga akan disalahkan juga, sebab kurang memperhatikannya jalannya Khotbah. Dan perintahnya pun tidak bisa dijalankan sebab hadirin semua kurang mengerti. Sebagaimana dari firman-firman Allah, dengan arti :
“Kami tidak mengirimkan perintah kami, terkecuali melaluibahasa-bahasa yang mudah dimengerti oleh para kaum, supaya meraka bisa menjelaskan apa yang Kami utus terhadap mereka (S Ibrahim. 4)
Maka untuk bisa memahami tentang tata cara sahnya shalat berjamaah, senantiasa Allah Swt menurunkan utusanNya hanya menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dimengetri oleh semua kaum-kaum yang diperintah, guna untuk utusan itu sendiri bisa bermanfaat untuk mereka semua. Begitu juga dengan keterangan-keterangan yang sangat singkat, maka sangat terbuktilah kesalahfahaman mengenai pendapatdari sebagian para ulama, maka pergunakanlah khotbah diindonesia untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia, guna bermanfaatnya bagi semua hadirin dan juga semua hadirin tidak menyalahi perintah.

Kiranya hanya sedikit informasi mengenai bagaimana memahami tentang  tata cara sahnya shalat berjamaah ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk semua, amiin.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »