Cara memahami sifat-sifat terpuji dan tercela

Cara memahami sifat-sifat terpuji dan tercela
Cara memahami sifat-sifat terpuji dan tercela. Kita sebagai manusia biasa tentunya jauh dari sifat-sifat yang sempurna, karena bahwasanya kesempurnaan hanya milik-Ny, akan teapi jika kita memang mau untuk belajar memahami sifat-sifat, tentunya sangat baik sekali untuk kehidupan kita sehari-hari sekaligus kita akan senantiasa mengontrol sifat-sifat yang kita miliki, atau bisa disebut sebagai Introspeksi diri.


Sifat-sifat yang dimiliki seseorang sangat bermacam-macam bentuknya, ada yang memiliki sifat terpuji ada juga yang tercela, maka dari itulah sangat penting sekali dan dianjurkan agama untuk bisa memahami sifat-sifat terpuji dan tercela. Baiklah kali ini saya akan sedikit mengulas bagaimana cara memahami sifat-sifat terpuji dan tercela, mari kita simak bersama-sama.

Memahami sifat-sifat yang terpuji :
Diantara kewajiban-kewajiban hati, meliputi semua anggota badam, adalah memiliki iman terhadap Allah, dan juga dari semua perkara-perkara yang datangnya dari Allah, memiliki iman terhadap rasul Allah dan juga keseluruhan perkara ajaran-ajarannya bahwasanya yang datangnya dari rasul Allah juga membetulkan sepenuh hati kita, abahwasanya Rasululloh merupakan utusan Allah . Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah, yang artinya :
"disetiap perkara-perkara atau ajarannya yang dibawakan rasul terhadap kita semua, maka sudilah untuk menerima disetiap perkara-perkara yang tidak diperbolehkan oleh Rasul tersebut, jauhkanlah “ (S. Al hasyar. 7)

Yakinlah dan ikhlas, itulah cara kita membuang isi hati kita yang ria, selalu menginginkan pujian dari manusia pada saat melaksanakan amal, bahwasanya beramalah semata-mata karena Allah, penyesalan berbuat kemaksiatan, bahwasanya prihatin dengan semua perbuatan-perbuatan kemaksiatan, selalu mengharap AmpunanNya, sekaligus memiliki tekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Memiliki ketaqwaan terhadap Allah, selalu berprinsip atau bergantung terhadap pertolonganNya, bukan terhadap manusia, muqarabah terhadap Allah, bahwasanya disetiap gerak dan gerik kita serasa semuanya diawasi Allah, memiliki ke ridhaan terhadap Allah, bahwasanya selalu lapang dada dengan semua yang sudah ditentukanNya, walaupun pahit terasa.

Berbaik sangka terhadap Allah, bahwasanya semua takdir yang telah dianugerahkanNya semua terkandung hikmah, Ia maha pengampun terhadap hamba-hambaNya yang senantiasa meminta ampunan-ampunanNya, berperasangka yang baik terhadap makhuk Allah, selama tidak menunjukan gerak-gerik niat jahatnya. Apabila memang gerak-gerik atau tanda yang kurang enak dipandang bahwasanya kita bias mencurigainya, selalu mengagungkan Syiar-syiar, Tanda-tanda Keluhuran agamaNya, dengan contoh, Masjid, Madrasah dan lain-lain.

Selalu mensyukuri nikmatNya, awalmulanya hanya mengingat, kemudian mengeluarkan kalimat, contohnya : “segala puji bagi Allah yang senantiasa memberikan kenikmatan terhadapku”, kemudian selalu mempergunakan nikmatNya tersebut sepadan dan cenderung dengan hukum-hukum Allah, seperti contoh : seumpama diberikan suatu Ilmu dan selalu di amalkan sekaligus di ajarkan, selalu memanfaatkan rijqi dengan baik, misalnya dengan bersedeqah, selalu sabar didalam melakukan semua perkara-perkara yang diperintahkanNya.

Selalu berprinsip kuat terhadap rijqi, bahwasanya semua jaminan Allah yang dibarengi kekuatan tenaga, dan bukan semata-mata berharap terhadap usaha. Sebagaimana melalui firmanNya, yang artinya :
“ maka tidaklah ada suatu hewan yang melata, makhluk bernyawa, dibumi bahwasanya Allah lah yang memberikan rijqi dan hanya Dialah yang tau dimana mereka tinggal dan juga tempat-tempat menyimpannya, walaupun didunia melalui Rahim ibu ataupun pada akhirnya nanti. Semua telah dituliskan melalui Kitab nyata, Lauh Mahfuzh”. (S hud. 6)
Wajib hukumnya berburuk sangka terhadap bawaan nafsu-nafsu, bahwasanya tidak perlu tergesa-gesa untuk mengikuti hawa nafsu, sebelum dipikirkan dengan otak yang benar-benar sadar, bahwasanya dengan terbiasa mengikuti ajakan-ajakan hawa napsu akan dapat membawa kejurang kehancuran. Selalu menolak bahwaan hati yang napsu, bahwasanya selama ajakan-ajakan hawa napsu terhadap diri sendiri wajib hukumnya untuk kita tentang. Maka banyak ulama yang mengatakan :
“seorang yang menang bukan berarti bisa mengalahkan ratusan musuh-musuhnya, melainkan seseorang yang mampu melawan diri sendiri”, betul?
Bahwasanya kita wajib untuk benci terhadap dunia, yaitu sekumpulan harta-harta yang menjadikan penghalang ibadah terhadap Allah, walalupun bias menyebabkan keragu-ragan hati, dan juga harta yang tidak digunakan untuk beramal. Wajib hukumnya untuk tidak menyukai seseorang yang melakukan kemaksiatan, yaitu membenci semua perbuatan buruknya, karena pada hakekatnya perbuatan-perbuatan seseorang merupakan takdir dari Allah semata, ibaratkan sebuah wayang-wayang yang di mainkan seorang dalang.

Cinta terhadap Allah, yakni selalu menikmati semua pemberianNya, lalu selalu mewajibkan Ibadah terhadapNya sekaligus tinggalkan semua larangan-laranganNya. Selalu cinta terhadap firman-firmanNya, yaitu Al-quran. Ada juga beberapa golongan kaum yang mengatakan :
“barang siapa mencintai semua hal, bahwasanya ia akan selalu menceritakannya”
Selalu cinta terhadap rasul-rasulNya, bahwasanya merekalah utusanNya, pilihanNya. Dia sudah memperjuangkan dengan membawa umat-umat manusia agar senantiasa berpegang prinsip terhadap semua ajaran-ajaranNya, bahwasanya dengan cara seperti itulah umat akan sampai menuju puncak kebahgiaan Dunai Akhirat, tidak lupa juga untuk selalu cinta terhadap para sahabat-sahabat Rasul berserta keluarga.


Memahami sifat-sifat yang tercela :

Bagi seorang mukmin harus menjauhkan dari sifat-sifat sombongnya, bahwasanya semua apa yang didapatkan didunia itu merupakan ujian, misalnya menganggap dirinya lebih unggul dibandingkan yang lainnya serta dibarengi sifat angkuh. Namun apabila memang hati merasa lebih baik dari orang lainnya, akan tetapi memiliki jasmani kesopan santunan, disebut sebagai KIBIR, hal seperti ini juga tidak diperbolehkan agama. Selalu menjauhkan sifat ketamakan, hanya berharap pemberian orang lain, seolah-olah tidak mengharapkan kemurahanNya, apalagi jika memiliki sifat rakus terhadap segala isi dunia.

Selalu mengutamakan urusan dunia dan melupakan perkara akhiratNya, dengan mengumpul-ngumpulkan harta akan tetapi tidak digunakan untuk berama shaleh, ibadah terhadap Allah, serta mempertahankan hartanya karena memang Haknya, misalnya dengan tidak pernah melakukan Zakat, amal sedeqah dan lain sebagainya. Selalu memutuskan tali silaturahmi dengan orang Mukmin, bahwasanya melalui sabda Nabi SAW, yang artinya :
“selalu senantiasalah kalian bersilaturahmi, pastinya akan menambah tali cinta kasih” (riwayat Al bazar).
Jika menurut All Bin abu thalib mengatakan :
“ siapa saja orangnya yang merasa banyak susah, semua anggota badan akan merasa sakit, atau siapa saja yang tidak berhati-hati, maka akan mati pula hatinya”

Kita sebagai orang mukmin, jangan pernah mendiamkan seseorang yang melakukan salah, bahwasanya kita sanggup memberikan nasehat, dengan mendiamkan kemaksiatan, pertikaian terjadi didepan mata, sama halnya kita seperti setan yang bisu. Selalu mementingkan urusan orang yang lebih jika disbanding dengan orang-orang yang fakir, bahwasanya kita sebagai hambaNya agar senantiasa berlaku adil sekaligus sanggup memberikan tempat mereka-mereka yang kedudukannya dan juga derajat yang lumrah.

Selalu melakukan pulang pergi menuju kesultanan atau para penguasa, diperbolehkan asal dengan satu syarat, yaitu memberikan penyampaian mengenai Amar Ma’ruf dan juga Nahil’ Mungkar, maka cegahlah selalu Nahil-Mungkar, bahwasanya mereka sanggup untuk mencegah.

Adapun sifat-sifat mengenai Amar-Ma’ruf ataupun Nahil-Mungkar ada beberapa tingkatan yang harus kita ketahui bersama, diantarannya :
  • Awal mula hanya memberikan penjelasan dengan memberi tau
  • Kemudian memberikan nasehat-nasehat
  • Lalu ucapan-ucapan tegas
  • Kemudian memaksanya agar senantiasa menghapus 
Melalui ke4 tingkatan-tingkatan diatas, untuk semua masyarakat terhadap semua para penguasa, bahwasanya hanya dengan melalui 2 cara-cara, diantaranya : Memberi tau dan nasehat, tidak gila akan pengaruh-pengaruh, Kekuasaan atau Harta benda, jangan sekali-kali untuk melaksanakannya, kecuali yang disebabkan Kebutuhan, atau menurut Hukum Syara, bukanlah semata-mata untuk memenuhi kpentingan pribadinya, atau jika memang keadaan terdesak dan memaksa, menurut syekh Ibnu ‘ alawiyil – haddad, sebagaimana yang telah diterangkan oleh imam Syafi’i R.a, yaitu :
"bahwasanya seseorang yang hanya mengutamakan kedudukan menjadikan salah satu Pemimpin yang memang belum saatnya, lalu Kedudukannya menjauh dari dia, atau siapa saja yang tidak berniat untuk menginginkan, bahwasanya dia memiliki kemampuannya, pasti kedudukan tersebut akan senantiasa mendekatnya”
Demikian sedikit ulasan mengenai cara memahami sifat-sifat terpuji dan tercela, mudah-mudahan sedikit artikel ini bisa bermanfaat untuk semua, bahkan akan lebih menjadikan Makrifat apabila sobat semua berkenan untuk berbagi melalui tombol share dibawah, terimakasih.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »