Tradisi unik mencabik mayat sambil diarak-arak sepanjang jalan

Tradisi unik mencabik mayat sambil diarak-arak sepanjang jalan - Satu lagi kebudayaan dari bali yang terbilang cukup unik dan aneh, yaitu mengarak mayat disepanjang jalan menuju kuburan, tidak ketinggalan juga sebagian beberapa orang dipinggir jalan saling berlomba mencabik mayat dan naik keatas keranda mayat tersebut.
Tradisi unik mencabik mayat dari tampaksiring -gianyar bali ini sempat menuai kontrofersi dan menjadi salah satu topik yang sering diperbincangkan melalui media sosial. Oleh sebab tradisi ini sebuah tradisi yang menyiksa mayat sebelum dikuburkan, maka tidak aneh jika kebudayaan dari gianyar bali ini banyak sekali pro dan kontra.

Pada saat proses pemandian mayat tengah berlangsung, sementara warga sudah menunggu didepan rumah almarhum, berkumpulnya para warga tersebut tidak lain hanya menunggu proses memandikan mayat selesai. Kemudian setelah mayat dibawa keluar dari rumah, banyak para masyarakat setempat mempersiapkan dirinya masing-masing untuk bisa menaiki mayat yang kemudian dicabik menggunakan gigi atau tangan para warga. 

Tradisi unik mencabik mayat
Tradisi mencabik mayat

Budaya seperti ini masih tetap berjalan sampai saat ini, dan hanya di banjar, tepatnya dari desa tampaksiring yang masih tetap menjungjung tinggi kebudayaan maupun tradisi turun-temurun yang masih setia menjalankan tradisi "Mesbes Bangke" alias mencabik mayat, jika warga setempat menyebutnya. Meskipun sudah banyak menuai kontra, namun tetap saja tradisi mengarak-ngarak mayat disepanjang jalan masih tetap berjalan. Wagra masyarakat beserta jajaran pemerintahan pun sangat menghargai budaya ini, karena para leluhur merekalah yang pertama kali menurunkan warisan tradisi mencabik mayat, yang terkesan menyiksa mayat.

#Pihak keluarga Almarhum atau Almarhumah
Beberapa dari sesepuh adat, dan juga pihak pemerintahan setempat sudah menerangkan, pasalnya tradisi unik dan aneh ini, bukan semata-mata pelampiasan dendam terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau untuk sekedar ajang ketangkasan melainkan tradisi mencabik mayat ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan yang terjalin bagi semua warag setempat. Sebab bukan hanya warga saja yang ikut mencabik mayat tersebut, bahkan pihak keluarganyapun merelakan dan turut serta melakukannya demi membuktikan tidak adanya keburukan bagi warga masyarakat desa setempat.

Pihak keluargapun mendorong kepada semua warga setempat untuk melakukan pencabikan, dengan begitu jasad mayat nantinya akan senantiasa menemukan ketenangan dialam barzah. Mengapa pihak keluarga mendukung kepada semua warga?, mungkin semasa almarhum atau almarhumah masih hidup pernah melakukan kesalahan-kesalahan, maka salah satunya jalan memaafkannya melalui tradisi mencabik mayat ini, bukan unsur dendam atau yang lainnya. Dan jika diantara dari pihak keluarga tidak ada yang ikut, tidak menjadi soal.

Asal-usul tradisi ngarak mayat dan dicabik
Menurut sejarah asal-usul para sesepuh dijaman dahulu, Mesbes (mencabik mayat) hanya bertujuan menghapus bau bangkai dari mayat tersebut. Maka dengan suasananya yang riang gembira, maka aroma busuk sudah hilang dari fikiran. Setiap warga yang menaiki mayat diatas, pada saat mencabik mereka tidak hanya menggunakan kedua tangannya saja melainkan dengan giginya, bahkan mereka tidak merasakan jijik sama sekali.

Dan menurut para tetua jaman dahulu, bahwasanya yang diperkenankan mengikuti tradisi mencabik mayat hanya bagi warga masyarakat setempat saja. Jika ada yang berani ikut serta sedangkan orang itu bukan warga setempat, maka semua pemuda beserta sesepuh akan memberikan hukuman terhadap orang diluar warga kampung itu, resikonya bisa dikeroyok para pemuda kampung yang bersangkutan.
Rupanya dibalik semua ini, pasalnya tradisi seperti ini memiliki rintangan tersendiri. Pada saat kegiatan sedang berlangsung, mayat yang diatas tidak boleh jatuh sampai menyentuh tanah. Maka dari itulah disaat mengangkat mayat dibutuhkan seseorang yang sangat kuat tenaganya agar simayat tidak bisa dicabik oleh warga, terlebih lagi bukan satu atau dua orang yang saling berebut.

Namun sampai saat ini, tradisi selalu berjalan dengan baik dan tidak pernah mayat mengalami jatuh ketanah pada saat-saat warga mencabiknya. Tidak heran jika selama perjalanan menuju pemakaman akan semakin lama, saking banyaknya warga setempat saling berebut mayat, sehingga orang yang mengangkat dengan rasa suka cita kesulitan membawa sampai tujuan.

Mesbes bangke 'mencabik mayat' ini bukan hanya berhenti disesampainya tempat pemakaman, bahkan setelah mayat dilepaskan dari keranda, mayat menjadi rebutan para warga dan dibawa berlari kesana-kemari oleh warga yang berkelompok. Maksud dan tujuannya agar semua prilaku buruk mayat semasa hidup akan terbuang terbawa angin, dan juga membuang jauh-jauh rasa aroma bau busuk yang ditimbulkan dari mayat itu.

Tradisi seperti ini, memang terkesan tidak bermoral, tapi jika dilihat dari sudut pandang yang lain, selain dari warganya bahkan pihak keluargapun ikut turun tangan melakukannya, apalagi jika sudah dikait-kaitkan dengan warisan para leluhur secara turun-temurun.

Demikianlah seidkit ulasan singkat mengenai tradisi unik mencabik mayat sambil diarak-arak sepanjang jalan ini, mudah-mudahan bisa menambah wawasan tentang tradisi-tradisi yang ada di indonesia tercinta ini. Semoga bermanfaat.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »