Pemahaman tentang jual beli yang dilarang dalam islam

dilarang dalam islam
Uang Riba
Pemahaman tentang jual beli – Tentunya sobat semuanya tahu apa itu yang namanya riba, riba itu haram jika tetap dikerjakan, menerima, mencatat, melihat, mempermainkan atau memaknnya. Sebagaimana Nabi Muhammad telah bersabda : 
"Allah akan mengutuk orang yang sudah memakan riba (me­nerima), yang mewakilkannya (memberikannnya), yang mencatat maupun yang menyaksikannya." (riwayat muslim)

Bentuk riba bukan hanya seperti yang tertulis diatas, bentuk riba banyak sekali  macamnya. Maka agar kita semua mengenal jenis dan bentuk riba selain yang terlampir diatas, pasalnya bermacam-macam juga bentuk dari riba. Untuk lebih jelas lagi, ayo kita simak dan telaah bersama-sama disini.

#Macam-macam bentuk Riba.
Riba adalah menjual emas dan perak kepada orang lain dengan cara ditangguhkan bayarnya, (misalkan menukar emas dengan perak) ataupun tidak adanya antara satu sama lain yang menerima perak maupun emas tersebut. Maka cara seperti ini disebut sebagai riba “nasa” dan yang kedua riba (“yad”)


Dengan cara bertukar barang tapi sama jenisnya, misalnya emas dengan perak maupun perak dengan perak dengan cara ditangguhkan atau tidak adanya saling menerima bayarannya maupun penukarannya. Selain itu saling melebih-lebihkan (berat barangnya tidak seimbang padahal dalam karatnya yang sama. Lalu yang demikian dikatakan sebagai riba “fadhal”, dan juga termasuk riba ialah menukarkan beberapa makanan dengan sebagain lagi, sama seperti diatas dengan cara ditangguhkan atau tidak saling menerima. Padahal dari kesemuanya nilai maupun jenisnya sama.


Haram menjual barang yang Baru dibeli dan belum diterima (lalu dijual lagi). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. kepada hakim bin hizam:
"Wahai anak saudaraku! Janganlah engkau menjual sesuatu sehingga engkau harus menerimanya dahulu." 
Haram juga hukumnya menukar daging dengan hewan (misalnya 1 kg daging ditukar dengan seekor ayam dan sebagainya), men­jual utang dengan utang atau menjual barang kelebihan.

Contoh menjual hutang dengan hutang :
  • Jika seorang lelaki (a) memberikan uang kepada (b) untuk pesan sesuatu, dan sesuatu tersebut harus tersedia tepat pada waktu yang sudah ditentukan, misalkan ditanggal satu januari. Kemudian pada tanggal dan bulan tersebut barang yang dipesannya belum ada, dan si (b) yang menerima pesanan itu berkata kepada si (a)/ pemesan : “jual saja barang yang dipesan oleh saudara kepada saya dan bayarnya dengan tempo satu hari ataupun dua hari”
  • Terkecuali barang tersebut sudah ada tepat pada waktunya, lalu dibeli kembali oleh si (b), maka dengan cara seperti ini diperbolehkan. Ada juga seperti barang yang lebih, missal : kelebihan menerima barang-barang belanjaan, dan barang tersebut dijual kepada orang. Maka cara seperti itu sangat diharamkan dan dilarang agama, sebab bukan hak, terkecuali sudah mendapatkan izin dari sipemilik barang tersebut.
  • Haram juga menjual barang-barang yang tidak terlihat nyata, misalkan : ikan didalam kolam, buah ketelah dalam tanah, kelapa belum terkupas, kecuali ada sebagian yang sudah dikupas. Dan diharamkan juga jual beli orang-orang yang belum dewasa (baik untuk si pembeli atau penjual)
  • Haram menjual barang yang tidak ada manfaatnya dan yang tidak bisa diserahkan kepada pembelinya (misalkan menjual burung terbang, menjual barang yang sudah digadaikan tanpa seizin yang menerima gadaian dan sebagainya); demi­kian haram pula jual-beli tanpa shighat (ijab-kabul). 
  • Haram menjual barang yang tidak termasuk hak miliknya, misalnya menjual orang sudah merdeka (atau barang kepunyaan orang lain tanpa seizin pemiliknya), menjual tanah mati, barang yang samar, barang yang najis misalnya anjing, se­tiap barang yang memabukkan dan menjual barang yang diharamkan, misalnya thunbur (semacam biola). 
  • Cara yang diperbolehkan untuk memperjual belikan barang yang najis, misalnya pupuk kandang, anjing penjaga kebun dan sebagainya, ialah dengan cara saling memberi, atau upah mengumpulkan kotoran hewan dari kandang dan sebagainya. Haram menjual barang halal yang suci kepada orang yang diketahui akan menggunakan barang itu untuk berbuat dosa, (misalnya menjual golok ke tukang todong dan lain se­bagainya). 
  • Haram menjual barang yang memabukkan (misalnya khamar atau arak, ganja, madat dan sebagainya), dan men­jual barang cacat yang tidak dijelaskan kecacatannya (misalnya beras yang dibasahi dicampur dengan yang kering, daging basi disatukan dengan yang baru dan se­bagainya). Sebagaimana sabda Nabi saw.: 
"Barang siapa yang menipu kita (kaum muslimin), ia tidak termasuk kaum kita."
 
#Mengurus tirkah mayat.
Tidak diperbolehkan membagi-bagikan harta tirkah (peninggalan orang yang sudah mati) ataupun menjual sesuatunya sebelum wasiat atau hutangnya diselesaikan dahulu, dan juga sebelum ongkos Haji atau Umrahnya keluar, jika masih suatu kewajibannya (sebab orang tersebut kaya raya dan belum sama sekali menunaikannya) terkecuali menjual sesuatu guna memenuhi kewajiban tersebut saja. Harta tirkah ibarat laksana barang gadaian, maka harta itu tidak boleh dibagikan sebelum ditebus.

Haram membatalkan pembelian atau penjualan seseorang sesudah harganya ditetapkan dengan maksud agar ia bisa menjual kepadanya atau membeli darinya, apalagi setelah akad dilakukan dalam masa khiyar (tenggang waktu untuk menetapkan jadi atau tidaknya). Contoh: "Kembalikan saja belanjaan ini kepada penjualnya, nanti aku menjual pada­mu barang yang lebih baik dengan harga yang sama atau yang lebih murah"; atau: "Batalkan saja jual-beli ini dengan si Fulan, nanti aku beli barang ini dengan harga lebih mahal."

Haram membeli makanan (misalnya padi) pada musim pa­ceklik yang sangat dibutuhkan masyarakat, dengan maksud untuk ditahan dahulu (ditimbun), dan akan dijualnya dengan harga yang lebih mahal. Sabda Nabi saw.:
"Tiada yang menimbun barang, terkecuali orang berdosa." (Riwdyat Muslim)
Haram menaikkan harga (dalam penawaran) dengan maksud untuk membujuk orang lain (bukan untuk membelinya. Cara itu seperti pelelangan, dan haram memisah­kan hamba perempuan dengan anaknya sebelum tamyiz (demikian pula haram menjual induk binatang yang masih menyusui yang akibatnya memisahkan induk dengan anak­nya).

Haram jual-beli yang mengandung penipuan, mengurangi sukatan, timbangan, kiloan atau ukuran, bilangan atau ber­dusta. (Nabi Muhammad saw. pernah bepergian melewati pasar, tiba-tiba beliau melihat tumpukan makanan. Lalu beliau memasukkan tangannya kedalam tumpukan itu dan mendapatkan yang basah di dalamnya.

Beliau bertanya: "Kenapa begini, wahai pedagang makanan." Jawabnya: "Terkena air hujan, ya Rasulullah." Sahut beliau: "Kenapa tidak engkau taruh di atas supaya terlihat oleh orang?" Lalu sabdanya: "Barang siapa yang menipu kita (kaum muslimin), ia tidak termasuk golongan kita." 
sabda-nya: 
"Bagi pembeli dan pedagang, apabila mereka berkata benar dan baik, tentu jual-belinya diberi berkah, namun apabila mereka menyembunyikan dan berdusta, tentu keberkahan itu dicabut dari mereka." (Mutaffaq 'alaih)
Haram menjual kapas atau barang-barang dagangan lain­nya kepada salah seorang pembeli dengan harga beberapa dirham di atas pembeli lainnya dan mengutanginya dengan melebihi harga penjualan barang-barang tersebut disebab­kan adanya piutang. (menaikkan harga barang dengan cara demikian itu diharamkan karena mengambil bunga dengan cara mempermainkan utang si pembeli).

Haram mengutangkan seseorang kepada tukang tenun atau lainnya dari kaum buruh, lalu ia mempekerjakan tukang tenun itu dengan upah lebih kecil daripada upah yang lumrah, disebabkan adanya piutang itu. Siatem piutang itu para Ulama menamakannya rabthah (artinya ikatan). (sistem itu mempermainkan riba).

Atau seseorang mengutangkan kepada para petani sampai dengan musim panen. Kemudian para petani itu menjual makanan kepada yang mengutangkannya dengan harga yang lebih rendah sedikit (daripada harga yang lumrah). Sistem pinjaman itu diaebut oleh para Ulama maqdhi, (sebab utangnya dibayar dengan makanan hasil pertanian­nya, atau yang lazim disebut ijon). Demikian pula sejumlah dari cara mu'amalah (usaha) para ahli (masyarakat) zaman sekarang ini yang sebagian besar keluar dari ketentuan hukum syara'.

Oleh karena itu, bagi orang yang mengharap Ridha Allah swt., keselamatan urusan agamanya, dan dunianya, ia wajib mempelajari apa-apa yang halal dan haram baginya dari orang 'alim yang selalu berhati-hati dan sangat mem­perhatikan kepentingan agamanya (dengan menghilangkan kemungkaran dari manusia). Maka sesungguhnya mencari barang yang halal itu diwajibkan bagi setiap orang muslim, sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad saw :


"Barang siapa yang berusaha untuk keperluan keluarganya dengan harta yang halal, maka ia seperti orang yang berperang sabilillah dan barang siapa yang mencari harta dunia yang halal demi menjaga diri dari meminta-minta, keadaannya itu sederajat dengan orang yang mati syahid."
Sabda-Nya:
"Barang siapa yang mendapatkan harta dengan jalan dosa (haram), lalu hartanya sampai kepada saudara­nya dengan rasa kasih sayang atau ia sedekahkan atau ia belanjakan (pergunakan) dalam jalan Allah (seperti wakaf), maka Allah kelak akan mengumpulkan semua hartanya itu, kemudian dilemparkannya ke dalam api neraka." (Riwayat Abu Dawud)
Sumber : 
Syekh Imam Nawawi Banten
Kitab : Sullamut Taufiq

Demikian ulasan mengenai pemahaman mengenai jual beli yang dilarang dalam Islam, mudah-mudahan artikel ini bermanfaat untuk semua.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »