Mempelajari tentang syarat-syarat shalat berjamaah

syarat-syarat shalat berjamaah
Mempelajari tentang syarat-syarat shalat berjamaah - Dengan mempelajari terlebih dahulu mengenai syarat-syarat sahalat berjamaah sangatlah penting sekali untuk kita ketahui, akan tetapi jika semuanya itu tidak dibarengi dengan niat yang sungguh-sungguh, semuanya menjadi percumah dan sia-sia belaka. Sebab hakekatnya orang yang melakukan Shalat itu, selain aktifitas yang wajib dilasanakan, yaitu agar senantiasa instiqomah dan mendapatkan rahmatNya.




Jadi bagi semua orang-orang yang melakukan shalat jumat dan juga shalat-shalat sunat, maka pada saat bermakmum kita senantiasa wajib untuk mengikuti syarat-syarat, guna mendapatkan hidayah dariNya, adapun syarat-syarat yang harus kita pelajari dan kita ketahui, alangkah baiknya kita semua sudah melengkapi persyaratan seperti dibawah ini, yuk kita simak bersama :

Tentang syarat-syarat shalat berjamaah
  • Semua makmum tidak diijinkan mendahului Imam, apapun tempat dimana dia berdiri atau pada saat-saat Takbiatul Ihram, dan jika sampai Takbiratul ihram dilakukannya bersama-sama seorang Imam, maka akan membataklan shalat. Akan tetapi selain dari takbiratul Ihram Hukumnya jadi makruh terkecuali membacakan kalimat Amiin, dengan begitu disunatkan. 
  • Diharamkan bagi seorang makmum yang mendahului Imam dengan 1 Rukun fi-ly, contohnya adalah, misalkan Imam masih dalam keadaan berdiri, lalu makmum mendahului rukuknya kemudian I-tidal, lalu imam rukuk, maka batalah Shalat makmum dikarenakan sudah mendahului imam dengan 2 Rukun, misalkan Imam dalam keadaan berdiri, lalu makmum sudah I-tidal dan hendak malaksanak sujud, kemudian Imam membungkukan dengan maksud rukuk. Demikian juga yang tertinggal Imam didalam 2 rukun fi-ly yang bukan disebabkan udzur atau sakit. Sebagai contoh yang dimaksud dengan udzur, yaitu seseorang yang memang sedang askit sehingga menjadi pelan geraknya.
  • Hendaklah seorang makmum tau mengenai pindahnya tugas-tugas Imamnya serta memperhatikan selalu dan juga mendengarkan suara-suaranya dengan teliti. 
  • Imam dan juga makmum agar senantiasa bersatu didalam Masjid atau juga tempat-tempat dimana dilaksanakannya Shalat berjamaah, walaupun hanya diterasnya dan juga didalam sebuah lingkungannya yang kurang lebih mencapai tiga ratus Hasta, yang sepadan dengan ± 100 Mtr antara Masjid dan juga bangunan gedung yang dipergunakan Shalat Imam dan juga makmum yang ada diluar sebuah bangunan masjid.
  • Tidak adanya penghalang antara Imam dan Makmum, dimana sesuatu yang menghalangi jalannya seorang Makmum guna mendatangi Imamnya, sehingga jika Imam Shalat dibawah, dan makmumnya diatas, loteng, seharusnya disediakan jalan untuk turun dari loteng menuju kebawah. 
  • Susunannya shalat Imam atau Makmum seharusnya seimbang, misalkan, pada saat bermakmum melaksanakan Shalat Ashar terhadap imam yang mengqdha shalat dzuhur, makmum shalat Fardhu bermakmum terhadap seseorang yang melaksanakan shalat Sunat rawatib, dan yang tidak diperbolehkan, misalkan makmum shalat ferdhu pada saat Subuh bermakmum terhadap seseorang yang melakukan shalat Gerhana, oleh sebab cara-cara shalat gerhana sangat beda dengan Shalat-shalat fardhu dan juga shalat Rawathib.
  • Diantara shalat Imam dan Makmum tidak diperbolehkan adanya sebuah perbedaan-perbedaan yang sangat terlihat didalam melaksanakan shalat sunatnya, misalkan didalam melakukan Sujud Tilawah, Sujud Sahwi dan juga Tasyahud, Imam melaksanakannya dan Makmum tidak atau sebaliknya. Dengan demikian diperbolehkan apabila adanya perbedaan diantara duduk beristirahat, atau sedang membacakan Doa Qunut, misalkan Imam melakukannya, dan Makmum tidak, atau juga sebaliknya.
  • Diniatkan terlebih dahulu makmum pada saat Takbiratul-ihram disaat shalat jumat dan juga pada saat shalat yang lain, misalkan disaat Shalat 5 waktu, jika memang lupa untuk Niat bermakmum pada saat Takbiratul-ihram, kemudian niatnya bisa dengan dilakukan pada saat melaksanakan shalat, akan tetapi dengan satu syarat yaitu sebelum Imam mengucapkan salamnya. Misalkan pada saat-saat membacakan fatihah dan sebelum ikut atau menunggu bacaan-bacaan Imam yang Panjang. 
  • Wajib hukumnya terhadap Imam yang mempunyai niat untuk menjadi Imamnya disaat shalat jumat dan Mu’adah sekaligus niat untuk menjadi Imam selain pada saat-saat shalat jumat, maka hukumnya sunat.
Kiranya hanya sedikit informasi pengetahuan mengenai bagaimana mempelajari tentang syarat-syarat shalat berjamaah ini, dan sebelumnya saya mohon maaf apabila memang masih terdapat kesalahan mengenai ulasan disini, saya bukanlah seseorang yang ahli tauhid, mudah-mudahan ulasan ini bisa bermanfaat untuk semua, dan akan lebih menjadi Makrifat apabila sobat semua berkenan untuk berbagi ulasan melalui share dibawah ini, terimakasih.

Memahami tentang tata cara sahnya shalat berjamaah

Memahami tentang  tata cara sahnya shalat berjamaah. Shalat berjamaah bagi kaum laki-laki yang merdeka dan yang bertempat tinggal menetap, tidak sedang dalam perjalanan, sudah baliq, dan juga tidak adanya sebuah hambatan, misalnya kondisi sedang kacau, lapar, hujan deras dan sakit, hukumnya fardhu Kifayah.

tentang sahnya tata cara shalat berjamaah

Shalat berjamaah jika didalam melaksanakan shalat jumat, hukumnya Fardhu ain, dan jika ada 40 orang mukallaf atau dewasa didalam sebuah masjid. Bahwasanya perlu diingatnya, bahwa sahalat berjamaah pada saat shalat jumat dirokaat awal, maka hendaknya Makmum diperkenankan mendahului Imamnya dirokaat yang kedua. Menurut imam syafii diterangkan, shalat jumat hanya ada 4 orang, hukumnya juga sah-sah saja. Hukumnya wajib Shalat jumat, untuk seseorang yang dalam perjalanan apalagi sampai menginap ditempat tujuannya, jika menurut pandangan sahih, khususnya bagi orang-orang yang sudah mendengarkan adzan melalui tempat-tempat berbeda dipinggiran desa yang memang berdekatan dengan desa dimana tempat tersebut ada dilaksanakannya Shalat jumat.

Adapun tentang sahnya tata cara melaksanakan shalat berjamaah, khususnya pada saat melaksanakan shalat jumat, ialah :
  • Dilakukannya tepat diwaktu dzuhur
  • Khotbah dikerjakannya 2 x yang didengarkan oleh empat puluh orang
  • Shalat berjamaah pada saat shalat jumat sedikitnya ada empat puluh orang yang hadir
  • Pada saat dilaksanaknnya shalat jumat, seharusnya tidak bersamaan dengan Shalat jumat yang berada dikampung sebelahnya, dan juga tidak diperbolehkan melaksanakan Shalat jumat disatu tempat, terkecuali tempat tidak memadai.
Selain itu juga, kita harus memahami tentang rukn-rukun khotbah, selain untuk menambah ilmu pengetahuan kita, kita juga harus saling mengingatkan akan kesalahan-kesalahan orang lain. Rukun khotbah ada 5, diantaranya :

Rukun khotbah
  • Selalu memuja-muji Allah, contohnya selalu menyebutkan kalimat Alhamdu lillahi.. 
  • Selalu membawakan shalawat terhadap Nabi Muhammad, contohnya menyebutkan kalimat : Allahumma shalli’alla dan juga washhalaatu wassalaamu’alaa saydinna Muhammadin. 
  • Selalu berwasiat senantiasa taqwa terhadap kedua Khotbah, contohnya : ittaqul-laah 
  • Selalu membacakan ayat-ayat Al-quran disertai keterangan dan pengertiannya secara lengkap 
  • Selalu membacakan doa-doa khusus Kaum Mukminin disaat-saat khotbah yang ke dua, contohnya Allahumagh firlilmu’miniina walmu’minaat.
Syarat-syarat dalam berkhotbah ada tujuh, diantaranya:
  • Dalam keadaan suci dari Hadas Besar dan Kecil, dan juga Najis yang menyatu dibadan tempat maupun barang-barang bawaaan (Hhatib wajib bersih dari segala najis) 
  • Selalu tertutup (antara apusat dan juga sampai Lutut bagi seorang pria) 
  • Selalu berdiam diri ditengah-tengah Khotbah (untuk yang masih kuat, jika tidak duduk juga diperbolehkan) 
  • Selalu duduk tepat diantara kedua Khotbah (sejajar disaat membacakan Subhaanallaah dan afdhalnya sambil membaca surat Al-Ikhlas). 
  • Selalu diam diantara kedua Khotbah (kalaupun menjauh dari khotbah harus dibarengi dengan memberikan nasehat-nasehat terhadap semua hadirin yang dating) 
  • Selalu ada diantara kedua Khotbah (kalaupun sampai terpisah, harus dengan waktu sejajar shalat 2 rakaat, jika tidak, maka tidak sah khotbahnya 
  • Dari kedua Khotbah selalu dengan mempergunakan bahasa arab ( juga tentag rukun-rukunnya)
Bahwasanya perlu kita semua ketahui. Ada beberapa ulama bersepakat, bahwa Khotbah harus dengan mempergunakan bahasa arab, sebab dijaman Rasulluloh saw begitu juha para sahabtnya, Khotbah selalu dengan menggunakan bahsa arab. Akan tetapi dia lupa, bahwa kondisi dijaman dahulu hanya diperlukan bahasa arab sebab bahasa arablah yang merupakan suatu bahasa paling umum digunakan oleh semua pendengar. Bahwasanya mereka lupa mengenai maksud diadakannya Khotbah, merupakan sebuah sarana yang memberikan pebelajaran atau nasehat terhadap orang-orang muslim, sekaligus yang mendengarkannya selalu dalam keadaan tenang ( selalu memperhatikan isi dari Khotbahnya). Sebagaimana melalui firman Allah yang artinya :
“ jika telah dibacakannya Quran, maka secepatnyalah hadirin mendengarkannya dan juga meperhatikannya, mudah-mudahan hadrin akan senantiasa mendapatkan rahmat (S. Al A-raf )
Ada juga sebagian para ahli Tafsir menyatakan bahwasanya ayat-ayat yang diturunkannya ini, sebab ada kaitannya mengenai urusan-urusan Khotbah. Jika Khatib sedang berkhotbah menggunakan bahasa yang kurang dimengerti oleh semua hadirin, sudah tentu Khotbahnya menjadi percumah. Begitu juga dengan hadirin semua pastinya juga akan disalahkan juga, sebab kurang memperhatikannya jalannya Khotbah. Dan perintahnya pun tidak bisa dijalankan sebab hadirin semua kurang mengerti. Sebagaimana dari firman-firman Allah, dengan arti :
“Kami tidak mengirimkan perintah kami, terkecuali melaluibahasa-bahasa yang mudah dimengerti oleh para kaum, supaya meraka bisa menjelaskan apa yang Kami utus terhadap mereka (S Ibrahim. 4)
Maka untuk bisa memahami tentang tata cara sahnya shalat berjamaah, senantiasa Allah Swt menurunkan utusanNya hanya menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dimengetri oleh semua kaum-kaum yang diperintah, guna untuk utusan itu sendiri bisa bermanfaat untuk mereka semua. Begitu juga dengan keterangan-keterangan yang sangat singkat, maka sangat terbuktilah kesalahfahaman mengenai pendapatdari sebagian para ulama, maka pergunakanlah khotbah diindonesia untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia, guna bermanfaatnya bagi semua hadirin dan juga semua hadirin tidak menyalahi perintah.

Kiranya hanya sedikit informasi mengenai bagaimana memahami tentang  tata cara sahnya shalat berjamaah ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk semua, amiin.