Pengertian mengenai maksiat menggunakan lisan

mengenai maksiat menggunakan lisan
maksiat lisan
Pengertian maksiat lisan - Dibulan yang suci dan penuh ampunan ini, sangat lah baik untuk senantiasa menjaga lisan agar supaya tidak terjerumus kejalan yang salah. Mungkin benar menurut anda, tapi salah menurut Allah taala.


Untuk mendapatkan rahmat dan juga ampunan, bukan semata-mata hanya dibulan ramadhan ini, untuk melakukan suatu kebaikan harus kita lakukan setiap hari. Ada pepatah mengatakan "tajamnya pedang belum sebanding jika dibandingkan dengan tajamnya lisan", maka salah satu keselematan didunia maupun akhirat bisa juga kita tentukan dari lisan kita.


Seperti halnya, kita mendoakan seseorang tentunya harus yang baik-baik. Sama halnya jika kita bergaul sehari-hari tentunya harus senantiasa berhati-hati dengan ucapan yang bisa menjerumuskan kita sendiri. Maka jika kita tidak mampu untuk mengeluarkan lisan yang baik-baik, alangkah baiknya lebih baik diam, didalam suatu hadits pun menerangkan bahwasanya "dengan diam, berarti disitulah para Malaikat pencatat amal akan beristirahat".
Baca juga : Pengertian tentang maksiat yang datang dari hati dan perut
Baiklah sobat semua, tiada hari yang baik selain di bulan Ramadhan ini, untuk senantiasa berbagi kebaikan. Saat ini saya akan sedikit mengulas tentang pengertian mengenai melakukan maksiat dengan menggunakan lisan kita.

- Macam-macam pengetian maksiat lisan
Ada beberapa diantara maksiat menggunakan lisan, salah satunya yaitu seseorang yang selalu mengumpat, atau manusia yang hanya bisa menggunjingkan keburukan, kondisi dan keadaan saudara-saudaranya oleh sebab suatu hal yang dibencinya. Pasalnya kita tidak memiliki hak untuk mendakwa orang tersebut, maka alangkah baiknya kita pasrahkan terhadap Allah semata, walau pada hakikatnya sendiri orang tersebut ada kesalahan, kecacatan terhadap dirinya, akhlaknya, pekerjaan dan juga lisannya.


"Terkecuali seseorang yang mengumpat dan ditujukan terhadap seseorang secara terang-terangan melakukan maksiat, terlebih lagi pada saat mengadu terhadap sang Esa bahwa mengatakan akhlak orang tersebut dan juga seseorang yang di dzolimi, maka diperkenankan".
Seperti halnya namimah, yaitu seseorang yang selalu mengalihkan ucapannya agar dapat menimbulkan kekacauan, atau bahasa umumnya "adu domba", sama juga seperti dengan mengutarakan hal yang memicu timbulnya pertengkaran seseorang. Baik melalui lisan, isyarat atau juga melalui tulisan. Dengan mengeluarkan suatu hasutan yang membuat pihak lain marah walau tanpa mengalihkannya suatu ucapan-ucapan terhadap binatang supaya timbul kesalahfahaman.

Baca juga : Pengertian jenis-jenis maksiat yang datang dari anggota badan

Berbohong, merupakan sebuah ucapan-capan yang berbelok dan jauh dari kenyataan yang sesungguhnya atau bersumpah palsu. Perlu kita ketahui semua, sekecil atau sebesar apapun berdusta merupakan perbuatan tercela dan berdosa, sebagaimana dari sabda Nabi Saw :
"bohong sama halnya mengurangi rijqi" (terkecuali berbohong demi menyelamatkan orang-orang muslim yang hendak dianiaya, dan juga berbohong demi mendamaikan pihak yang bersengketa).
Disamping itu pula, Nabi kita telah menyatakan melalui sabda-sabdanya yang artinya :
"Sebetulnya semua orang yang berdagang itu, orang-orang pendurhaka" kemudian mereka ditanya seseorang : ya Rasululoh !, bukannya Allah memperbolehkan orang untuk berdagang?", Nabi Menjawab : "benar, akan tetapi diantara mereka tidak sedikit yang bersumpah palsu yang bisa menyebabkan dosa serta mengeluarkan lisan bohong"
- Menuduh tanpa bukti
Mengenai maksiat menggunakan lisan, bisa juga terlontar dari perkataan yang memberi tuduhan perzinahan, adapun bentuknya dari beberapa macam. Intinya disetiap kalimat yang ditujukan terhadap orang dan juga terhadap para saudaranya dengan melakukan tuduhan telah melakukan zinah.

mengenai maksiat menggunakan lisanPerkataan dan juga sebuah kalimat tersebut berbentuk suatu tuduhan zinah, baik secara jelas dan mutlak, dengan berniat atau juga tidak, seumpamanya dengan perkataan : "kamu sudah melakukan zinah dengan si fulan", atau "hai situkang zinah!, bisa juga dengan bentuk khinayah (sindiran) : "kemu pernah berzinah dengan si fulan" dan disertai sifat-sifat menuduh.

Sudah kita ketahui semua, bahwa tuduhan tanpa adanya bukti adalam sebuah perbuatan fitnah, sebagaimana apa yang sudah kita ketahui semua melalui hadits, apa itu arti finah didalam Islam?...

Didalam Islam, kita dilarang menuduh seseorang tanpa adanya suatu bukti, atau juga dengan berperasangka buruk terhadap orang. Walaupun memang pada hakikatnya itu benar, kita tidak berhak mengatakannya, di Islam sendiri boleh mengutarakan sesuatu hal atau juga kejadian jika memang sudah terbukti dan sudah terjadi.

- Memaki

Dengan mengeluarkan kata makian, mengutuk, mencerca, mengusir dan juga menjauhkan seseorang dari Rahmat Allah, atau juga dengan memperolok orang-orang muslim dari setiap lisan yang tidak berkenan dihatinya.

Memperolok itu terbagi menjadi dua macam, salah satunya adalah :
  • "berikut yang termasuk digolongkan sebagai dosa kecil, jika dengan mengeluarkan senyuman sedikit sinis"
  • "dan dosa menjadi besar, jika sampai menertawakannya", terkecuali memperolok seseorang yang memang senang diperolok. Maka dengan begitu kita tidak berdosa dan lisan disaat-saat sedang bercanda.
- Merahasiakan ilmu
Menyembunyikan ilmu, dimana ilmu tersebut wajib disebarluaskan lebih-lebih banyak yang mencarinya. Terkecuali jika tidak ada yang mencarinya atau juga belum sepantasnya diajarkan terhadap seseorang. 

Didalam Islam pun mengajarkan, sejatinya ilmu akan berkembang apabila orang tersebut mengamalkannya terhadap seseorang, umpamanya : " seseorang yang jauh mencari ilmu sampai ke negeri orang, akan tetapi hanya untuk diri pribadi, seperti ini tentunya menjadi kemudharatan, dan percumah!, berbeda dengan seseorang yang mencari ilmu dinegeri sendiri, namun dengan tujuan untuk diamalkan, maka yang demikian akan menjadi lebih makrifat.

Salah satu maksiat yang lainnya, yaitu dari seseorang yang menertawakan orang kentut sampai orang itu merasa sangat malu, dan juga menertawakan orang-orang muslim dengan maksud menghina, menyembunyikan kesaksiannya dan melupakan qur'an yang sudah dihafalnya.

- Mengabaikan ucapan salam
Bahwasanya menjawab salam itu hukumnya wajib 'ain (penyakit kebiasaan buruk seseorang), walaupun salam tersebut hanya didalam surat sekalipun. Dengan mencium istri serta menggerak-gerakan syahwatnya bagi orang yang sedang Ihram Haji (orang yang sudah beniat  melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah) atau juga terhadap seseorang yang sedang melaksanakan puasa fardhu.

Kiranya hanya sedikit ulasan mengenai pengertian maksiat menggunakan lisan ini, sebelumnya jika ada kalimat yang masih salah, mohon diingatkan. Mudah-mudahan sedikit ulasan disini bisa bermanfaat untuk semua.