Hati-hatilah dengan ucapan, inilah Istighfarnya para pendusta

Setiap manusia wajib mengucapkan astaghfirullahaladzim setelah melakukan kesalahan dan ke kekhilafan, tapi apakah ucapan tersebut benar-benar tulus dari hati anda karena dorongan sebuah rasa penyesalan, dan apakan sesuatu yang bias membuat anda menyesal tidak akan anda ulangi lagi?.
Lisan memang tak bertulang, seperti pribahasa yang mengatakan “mulutmu harimau mu” itu memang akan selalu menjadi kenyataan. Banyak orang selalu mengucapkan istighfar, namun pada akhirnya mereka mengulanginya kembali, percumah dan sia-sia tentunya. Yang demikian sama halnya sebuah kalimat istigfar dari seorang pendusta.

Istighfarnya para pendusta


Syaikh shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah telah berkata :
"Adapun seseorang yang mengatakan astaghfirullah (aku memohon ampunan kepada Allah) dari lisannya, sementara dia bermaksiat dengan perbuatannya maka dia adalah seorang pendusta, sesungguhnya ucapan istighfar dia sama sekali menjadi kemudaharatan baginya."

Ada suatu permasalahan penting yang harus diperhatikan , yakni bahwa tidak cukup istighfar diucapkan hanya dgn mulut atau lisan. Hanya perkataan lisan Astaghfirullah , selanjutnya ucapan-ucapan ini tiada berbekas dalam hati, juga tidak membekas dalam perbuatan anggota tubuh.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata :
“bahwa istighfar tanpa memutuskan dari perbuatan dosa adalah taubatnya para pendusta, bahkan hingga dikatakan, memohon ampunan (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta." (Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an,).
Dan juga menurut perkataan para ulama:
"Menyebutkan sebuah kalimat Istighfar, membutuhkan istighfar. Bahwa sejatinya, bahwa barang siapa beristighfar hanya sementara dia tidak meninggalkan maksiat maka istighfarnya itu merupakan dosa yang membutuhkan istighfar pula. Maka hendaklah kita melihat hakekat dari istighfar kita supaya kita tidak menjadi para pendusta yang beristighfar hanya dengan lisan-lisan mereka, sementara mereka terus bermain-main di atas kemaksiatannya.” (Al-Khuthab Al-Minbariyyah Fil Munasabatil 'Ashriyyah, 1/226)

Allah azza wa jalla, telah berfirman:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ  ۚ  وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
"Akan tetapi Allah tidak menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan."(QS. Al-Anfal: Ayat 33)

Abu Hurairah r.a telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, yang artinya : 
”Tuhan kita setiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang tersisa. Allah berkata,” setiap orang yang berdoa kepada-Ku, maka Aku mengabulkannya, orang yang meminta kepada-Ku maka Aku memberinya, orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku mengampuninya”. (Hr Bukhari Muslim)

Abu Daud dan Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah juga telah bersabda:
 “Barangsiapa yang membiasakan menyebut istighfar, maka Allah akan memberikan untuknya jalan keluar dari setiap kesulitannya, rasa lega dari setiap kesedihan maka Allah akan mengaruniakan rizki dari jalan yang sama sekali tidak disangka-sangka.” 

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahami telah menerangkan :
“dalam istilah syara, taubat ialah meninggalkan suatu dosa karena keburukannya, menyesali dosa dengan bersungguh yang telah dilakukan, keinginan sangat kuat tidak akan pernah mengulanginya serta berusaha melakukan apa yang bisa diulangi . Jika dari keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya sudah sempurna”.

Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menerangkan : 
“bahwa para ulama berkata, ‘bertaubat dari dosa hukumnya wajib. Maka jika maksiat itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Antara lain adalah : Pertama: hendaknya ia menjauhi kemaksiatan tersebut. Kedua : ia harus menyesali dengan perbuatan nya. Ketiga : ia harus mempunyai keinginan untuk tidak mengulanginya, dengan begitu apabila salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah, Wallahu a'lam

Sumber artikel hati-hatilah dengan ucapan, inilah Istighfarnya para pendusta ini : Mutiara Hadits 496

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »