Alasan mengapa tidak diperbolehkan belajar Islam melalui Google

Tidak dipungkirinya lagi, bahwasanya google bisa juga dikategorikan sebagai narkoba yang hampir seluruh dunia menggunakannya. Jadi yang akan saya persoalkan disini, bukan larangan menggunakan kotak pencarian google yang serba tau ini, akan tetapi cenderung cara memfilterisasinya, dan cara memanfaatkan keunggulannya.
Menurut para ulama menyimpulkan, bukannya tidak diperbolehkan menggunakan keunggulan google didalam mencari informasi yang anda butuhkan, termasuk masalah agama. Hanya saja kita harus faham dan tahu bahwa google bukanlah salah satu sumber ilmu agama secara langsung, google hanyalah robot pencari yang sangat mampu mencari dengan cepat informasi yang kita butuhkan melalui dunia maya ini.

Mesin google hanyalah clue (penunjuk) dan bukan merupakan sumber informasi, maka penunjuk itu hanya jejak-jejak biasa yang harus ditelusurinya lebih lanjut lagi. Entah nanti jejak itu akan membawa kita ketempat yang benar, atau yang salah. Sebab benar maupun salahnya informasi tersebut, google tidak ada urusan sama sekali. Maka dari itulah hindari untuk memperbanyak belajar agama islam dari google, baik dalam keadaan tertentu maupun dalam kondisi terbatas. Google bisa saja dimanfaatkan untuk sekedar mencari jejak tulisan yang terkait dengan islam dan tentunya dalam jumlah yang terbatas.

belajar-Islam-melalui-Google_7896.jpg

#Beberapa alasan mengapa kita tidak diperbolehkan belajar Islam melalui Google
Maka jikapun ada seseorang yang hanya memanfaatkan kecanggihan mesin raksasa google untuk memamerkan ilmu agama islam, bahkan google lah sumber utama satu-satunya ilmu agama. Pastinya sedari awal mereka sudah keliru besar dan bisa dibilang sesat. Kenapa saya katakan demikian?, sebab sumber ilmu agama Islam tidak lain adalah Rasulullah Saw beserta para sahabat. Begitu juga dengan Allah SWT, tidak pernah sekalipun mengirimkan utusan seorang nabi dan rasul yang bernama Nabi Google alaihissalam.

#Nisbi (perbandingan) tentang kebenaran Google
Tidak sedikit orang keliru serta menjadikan google sebagai tolak ukur suatu kebenaran, caranya hanya dengan melihat jumlah hasil yang dimunculkan oleh google pada saat masalah dicari. Sebetulnya kebenaran itu tidak pernah di ukur berdasarkan banyaknya suara atau jejak tulisan, sebab kebenaran sangat berbeda dengan demokrasi.
belajar-Islam-melalui-Google_796.jpg

Sebagai contoh, misalnya ada 99 orang zindiq (kafir) mencari dikotak pencarian dan menuliskan bahwasanya "berzinah halal", dan hanya ada 1 orang mukmin yang menuliskan bahwa "berzinah haram". Maka secara otomatis begitu ada orang yang jahil mencari kekotak pencarian google mengenai hukum zinah, sudah dapat dipastikan yang muncul kalimat "berzinah itu halal".
Kenapa halal?
Sebab hasil dari pencarian di google, bahwa google mempunyai fatwa "zinah itu halal", sebab pada dasarnya sudah ditemukan jejak 99 kalimat yang menghalalkan zinah dan hanya ada satu kalimat yang mengharamkan zinah. Kita bisa membayangkan seandainya di indonesia ini rata-rata awam tentang agama, dan hanya mengandalkan hasil dari kotak telusur google didalam masalah hukum agama, lalu apa jadinya agama ini?

#Isi dunia maya teramat banyak sampah 
Dunia maya memang tidak dipungkiri sangat terkesan keren, namun sebetulnya isi didalam dunia maya hampir kebanyakan sampah, mengapa demikian?. Setiap orang boleh saja menuliskan apa saja yang mereka suka, tanpa ada batasan hukum, terkecuali amat sedikit. Semua orang bisa upload hal-hal terkait ujar kebencian, pornografi, sara bahkan untuk saat ini sedang ramai menawarkan perjudian sekaligus prostitusi secara online.

belajar-Islam-melalui-Google_7926.jpg

Didunia maya ini orang secara terang-terangan memaki pemerintahan, teman tanpa merasa ragu, coba misalkan dialam nyata, sudah pasti tidak akan ada orang berani memaki pemerintahan, apalagi kalau sendirian. Umumnya bergerombol atau demo. Namun didunia semua orang merasa memiliki hak untuk mencaci siapapun, baik orang yang sudah dikenal, atau yang belum mereka kenal. Inti dari caci maki atau sumpah serapah merupakan sesuatu yang wajar didalam dunia maya, bahkan terkesan memiliki jaminan halal 100%. Alasan nya sanga simpel bagi google, bahkan google tidak akan perduli, sebab tugasnya hanya mencari, masuk akal atau tidak kah yang di carinya, benar atau salahkah yang dicari, sopan atau tidak kah, bagi google tidak ada perbedaannya sama sekali.

#Google tidak bisa menyeleksi kapasitas sekaligus otoritas dari mana sumber penulisnya.
Alasan mengapa tidak diperbolehkan belajar islam di google?, mau belajar agama islam seharusnya melalui guru agama, dimana kapasitas atau otoritas keilmuannya sudah dipercaya. Memalui dunia nyata, imposible rasanya, jika orang baru masuk islam lalu pagi harinya tiba-tiba menjadi ulama besar dan berani mengharamkan dan menghalalkan ini dan itu.

belajar-Islam-melalui-Google_193545.jpg
Namun dunia maya, seringkali tidak sedikit orang mau belajar ilmu syariah secara benar, yang awalnya cuma baca-baca terjemahannya saja, atau mendownload entah karya siapa, lalu tiba-tiba dirinya menjadi mufti (ahli fatwa) yang terkesan sangat agung, sebab merasa dirinya memiliki fatwa teramat ma'sum tidak ada salah sedikitpun.

Tentunya kita semua tahu, sangat banyak para ulama yang ilmunya tinggi, yang seharusnya kita kagumi. Namun sangat disayangkan, setiap ulama yang ilmunya sedemikian luas itu, tidak sedikit orang yang mau menuliskannya didunia maya.

Sebaliknya, saya kenal dengan ribuan orang jahil pangkat dua, dalam arti jahil sejahil-jahilnya, tidak mengerti bahasa Arab, tidak bisa baca kitab, bacaannya cuma kitab terjemahan yang lebih banyak salah terjemahnya ketimbang benarnya, tidak pernah duduk di majelis ilmu, tidak kenal para ulama dengan spesialisasinya, bahkan yang menjadi aib besar adalah ketika membaca Al-Quran masih dalam taraf mengeja terbata-bata, tidak mengerti kitab referensi ilmu syariah, dan sejuta aib lainnya, ternyata merasa dirinya adalah sumber kebenaran.

Konyolnya sosok-sosok seperti ini merasa dirinya sudah sah dan resmi menjadi juru dakwah, aktifis pergerakan, dan salah satu 'dakwahnya' adalah rajin sekali menulis tanpa ilmu dan hobi memposting hoax dalam agama, aktif menulis kajian-kajian yang belum pernah seumur hidup dipelajarinya dengan benar. Kalau dia tahu, sumbernya hanya dari 'ustadz saya', 'guru saya', 'murabbi saya', hanya segitu saja.

Yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah mereka yang 100% jahil ini pun punya murid-murid yang secara rutin 'mengaji' kepadanya. Kok ada ya orang yang mau menimba ilmu dari orang yang tidak punya ilmu?

Wallahi saya heran dan takjub. Dan lebih edan lagi, para muridnya itu pun mengangkat diri mereka sebagai sumber agama, lalu menulis pula di blog, web, FB, dan seterusnya. Kalau diungkapkan mirip dengan firman Allah SWT :

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (Qs. An-Nuur : 40)

Maka kalau mau disalahkan, sebenarnya kalau kita tahu duduk masalahnya ya jangan salahkan Google, tetapi salahkan yang menggunakan Google sebagai satu-satunya sumber dalam memahami agama Islam. Dan nomor satu, salahkan dulu mereka yang jahil tapi belagak punya ilmu lalu menulis di dunia maya.

#Bagaimanakah cara yang baik mengambil manfaat dari google didalam belajar agama?

Tentu tidak bijaksana kalau saya hanya menyalah-nyalahkan saja tanpa memberi solusi. Di awal sudah saya katakan bahwa Google tetap bisa dimanfaatkan, asalkan tahu aturan dan batasannya.

Contohnya, ketika saya butuh informasi tentang sebuah hadits yang saya tidak tahu siapa perawinya. Untuk itu Google bisa digunakan dalam batasan tertentu. Caranya, ketikkan potongan haditsnya dalam bahasa Arab, misalnya : إنما الأعمال بالنيات lalu cari. Kita akan diberikan sekian banyak link yang bisa kita pilih oleh Google. Dari sini kecerdasan kita mulai diuji, pilih link yang mana seharusnya?

Anggaplah saya memilih sebuah situs yang menampilkan teks hadits itu. Tertulis disana informasi yang lengkap, yaitu matan dan sanadnya, lalu disebutkan adanya di kitab apa, jilid berapa dan halaman berapa. Kalau pas beruntung seperti ini, tentu bagus sekali.

Cuma satu hal yang penting untuk diketahui, level informasi itu masih terlalu rendah. Sebab kita belum membuka langsung hadits itu di dalam kitab aslinya. Kita cuma baca tulisan orang entah dia benar atau keliru tentang informasi awal mengenai hadits tersebut. Oleh karena itu level informasi dari mbah Google ini masih bersifat 'konon kabarnya' dan belum ditahqiq sesuai dengan prosedur.

Untuk itu kita wajib buka kitab rujukan yang disebutkan dalam tulisan itu dan kita tahqiq, apa benar si penulis mengatakan demikian. Dan nanti baru ketahuan seberapa hoax tulisannya.

Tetapi kadang saya kejeblos pada situs yang jelek, penulisnya pun jelek juga. Memang ada teks hadits itu dalam bahasa Arab, tapi tidak disebutkan info penting selanjutnya. Tidak ada perawinya, tidak ada kitab rujukannya, bahkan tidak jelas siapa yang menulis artikel ini. Nah, inilah bukti bahwa Google tidak sepandai yang kita kira.

Ulasan terkait :
Perbuatan ini sama halnya dosa 1000 kali lebih besar dari dosa berzina

Bahkan kalau lagi apes, boro-boro dapat haditsnya, yang ada cuma kumpulan link-link tidak jelas, isinya iklan dan virus yang siap menghancurkan komputer kita. Atau lebih sial lagi, kita ketemu link dari orang jahil yang menulis sesuatu tanpa ilmu, sehingga alih-alih kita dapat pencerahan malah dapat kesesatan.

Kesimpulan :
Perlu kita ingat dan filtrasi, bahwasanya semua informasi tentang islam dari google jangan langsung kita percayai, pasalnya semua tulisan hasil dari pencarian di google seharusnya kita anggap sebagai hal yang keliru, atau kita buang terlebih dahulu saja. Sampai nanti pada saatnya ada sekian banyak pembanding yang mumpuni (menguasai keahlian) dan bisa memperkuat kebenarannya.

Sumber artikel : http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1432645522

Demikian segelumit ulasan mengenai apa alasan mengapa tidak diperbolehkan belajar Islam melalui Google, mudah-mudahan bermanfaat.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »